Jumat, 13 Juni 2014

PAUD



PAUD
 
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.
Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan 5 perkembangan, yaitu : perkembangan moral dan agama, perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan/kognitif (daya pikir, daya cipta), sosio emosional (sikap dan emosi) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan sesuai kelompok usia yang dilalui oleh anak usia dini seperti yang tercantum dalam Permendiknas no 58 tahun 2009.
Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu:
  • Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan pada masa dewasa.
  • Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah, sehingga dapat mengurangi usia putus sekolah dan mampu bersaing secara sehat di jenjang pendidikan berikutnya.
Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun (masa emas).
Ruang Lingkup Pendidikan Anak Usia Dini
  • Infant (0-1 tahun)
  • Toddler (2-3 tahun)
  • Preschool/ Kindergarten children (3-6 tahun)
  • Early Primary School (SD Kelas Awal) (6-8 tahun)

Pendidikan anak usia dini sangat baik dilakukan untuk anak-anak usia dini demi mengembangkan fungsi kognitif, motorik, dan psikososial mereka. Anak-anak usia dini sebaiknya mulai mengembangkan fungsi motorik, kognitif, serta psikososial mereka untuk persiapan pendidikan mereka di jenjang yang lebih tinggi.

Fungsi kognitif  ini berfungsi untuk membantu mereka berfikir kritis, membantu memecahkan masalah, dan membantu mereka dalam mengerjakan tugas di jenjang pendidikan lebih lanjut seperti pada masa sekolah, maupun di perguruan tinggi di masa depan nanti. Oleh karena itu, fungsi kognitif yang pertama kali harus mereka kembangkan adalah cara berhitung, membaca, menggambar, dan lain sebagainya. Namun sebaiknya proses pengembanga kognitif mereka disertakan dengan cara belajar sambil bermain. Karena anak usia dini masih belum terbiasa untuk menerima tekanan dalam proses belajar mereka, jadi proses belajar mereka akan berjalan tanpa merima tekanan karena mereka akan menikmati proses belajar jika sambil bermain.

Disamping itu, proses belajar sambil bermain akan membantu mereka mengembangkan fungsi psikososial mereka, karena mereka akan bermain bersama teman mereka dan belajar bersosialisasi untuk membantu mereka menjalin hubungan sosial mereka dengan orang lain dalam lingkungan sosial di masyarakat luasdi masa depan mereka nantinya. Fungsi motorik mereka jiga akan berkembang jika mereka belajar sambil bermain di taman kanak-kanak terutama motorik kasar mereka, seperti berlari, melompat, dan menari. Karena tak jarang pada taman kanak-kanak pada masa kini yang mengajari anak untuk menari terutama tarian daerah untuk mengenalkan mereka pada kebudayaan nusantara tetentu. Fungsi mprotik ini juga sebaiknya dilatih sejak dini agar anak dapat bergerak aktif demi menunjang mata pelajaran tertentu di masa pendidikan  mereka yang lebih tinggi.

Kamis, 12 Juni 2014

another experience

Pengalaman Berdasarkan Pedagogi

Seperti yang sudah saya jelaskan di post sebelumnya, pedagogi merupakan pendidikan yang berfokus pada guru atau teacher-centered, pedagogi juga merupakan pendidikan yang biasanya digunakan untuk anak-anak di sekolah dan peserta didiknya disebut “siswa”. Dalam proses pendidikannya, pedagogi menuntut agar guru lebih aktif untuk memberikan informasi kepada siswa seperti menciptakan ide-ide dan contoh dalam pembelajaran.

Jika dikaitkan dengan pengalaman pribadi dari diri saya sendiri, saya dapat mengemukakan bahwa pendidikan yang saya terima selama sembilan tahun di bangku sekolah dulu memang berfokus kepada guru sebagai tenaga pengajar yang memberikan informasi kepada siswa dan siswinya karena masih memiliki pengalaman dan informasi yang minim. Oleh karena itu, guru saya semasa sekolah dasar dulu selalu mengajari kami dengan proporsi kurang lebih 75% dan kami masih belajar secara pasif karena masih harus menerima ilmu dari guru. Pada saat itu kami masih belum belajar cara berdiskusi karena masih duduk di kelas satu sekolah dasar. Guru saya termasuk guru yang tegas terhadap peraturan dan perencanaan tujuan belajar mengajar yang telah disusunnya tergolong efektif dan efisien, karena dalam waktu dua bulan saja kami semua sudah bisa membaca walaupun tidak semua menjalani pendidikan pra-sekolah.

Guru juga menjadi fokus utama pada saat itu, karena semua ilmu yang kami dapat adalah berdasarkan teori dari buku, serta gagasan dan ilmu pengetahuan guru kami yang telah dimilikinya. Hal ini membuktikan bahwa asumsi tentang peserta didik pedagogi masih belum berpengalaman dan masih minim ilmu, serta pendidikan masih berfokus pada toeri itu benar. Berbeda halnya dengan andragogi yang berfokus pada masalah-masalah yang ada. Namun pada saat duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) kami sudah diperkenalkan dengan cara belajar andragogi yang mengharuskan peserta didik untuk dapat belajar secara aktif. Walaupun demikian, pengajaran kami pada saat itu masih berfokus pada guru yang memberikan ilmu yang dimilikinya, guru masih sebagai tenaga pengajar yang aktif serta menyediakan ide-ide serta gagasan. Tujuan pembelajaran juga masih direncanakan oleh guru karena pembelajaran kami juga masih dependen, yaitu masih bergantung pada guru. Berbeda dengan pada saat memperoleh pengajaran di perguruan tinggi yang mengharuskan kami untuk aktif belajar dan harus membaca materi terlebih dahulu karena cara pembelajaran yang independen.

Perbedaan antara cara belajar dependen dan cara belajar independen ini memang benar-benar jelas terlihat. Pada saat di bangku sekolah, peserta didik diwajibkan mendengaarkan materi yang disampaikan seorang guru sebagai tenaga pengajar karena jika peserta didik tidak melihat, mendengarkan, serta menyimak penjelasan dari guru, maka peserta didik akan kesulitan dalam proses belajarnya. Hal ini dapat saya buktikan dengan pengalaman saya pada saat di bangku sekolah, karena cara pembelajaran yang pasif dan dependen, saya sering kebingungan pada saat belajar karena saya kurang mendengarkan dan menyimak guru di kelas. Serta guru akan menegur siswa yang tidak menyimak pelajaran, guru juga biasanya akan mengajari siswanya sampai mereka mengerti. Ini menunjukkan ketergantungan peserta didik terhadap tenaga pengajar dalam pendidikan pedagogi. Berbeda halnya dengan proses belajar independen, peserta didik bebas menentukan pilihan apakah ingin memperhatikan tenaga pengajar atau tidak. Karena peserta didik dapat memperoleh materi perkuliahan baik dari saat pertemuan maupun dari luar. Dan jika pada saat akhir pertemuan mahasiswa tidak bertanya, maka dapat diasumsikan mereka sudah mengerti.


Itulah pengalaman belajar saya yang telah saya kaitkan dengan pedagogi serta telah saya bandingkan dengan andragogi agar pembaca dapat memahami lebih jelas lagi mengenai perbedaan antara keduanya. Serta pengalaman saya dapat dijadikan suatu contoh nyata tentang dinamika pedagogi dan andragogi.

Pedagogi dan Andragogi

Pedagogi dan Andragogi

Pedagogi merupakan pendidikan yang berfokus pada guru atau teacher-centered, pedagogi juga merupakan pendidikan yang biasanya digunakan untuk anak-anak di sekolah dan peserta didiknya disebut “siswa”. Dalam proses pendidikannya, pedagogi menuntut agar guru lebih aktif untuk memberikan informasi kepada siswa seperti menciptakan ide-ide dan contoh dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan oleh asumsi yang mengatakan bahwa siswa merupakan peserta didik yang belum berpengalaman dan minim akan informasi. Siswa juga masih menerapkan proses belajar yang dependen atau masih bergantung pada guru dalam proses belajar mengajar disekolah. Tujuan pembelajaran juga masih diatur dan direncanakan oleh guru, karena siswa dianggap masih belum mampu untuk merencanakan tujuan pembelajaran mereka selama berada di sekolah.

Dalam pedagogi, pembelajaran masih berfokus pada teori-teori dan pembelajaran yang ada dibuku dan belum diajarkan untuk mengaplikasikan hasil pembelajaran mereka untuk menyelesaikan masalah dikehidupan sosial yang nyata. Karena siswa masih belum berpengalaman atau masih memiliki sedikit pengalaman dalam proses pendidikannya.

Andragogi adalah proses untuk melibatkan peserta didik dewasa ke dalam suatu struktur pengalaman belajar. Istilah ini awalnya digunakan oleh Alexander Kapp, seorang pendidik dari Jerman, pada tahun 1833, dan kemudian dikembangkan menjadi teori pendidikan orang dewasa oleh pendidik Amerika Serikat, Malcolm Knowles. Berbeda dengan pedagogi, andragogi menuntut peserta didik untuk aktif dan guru hanya sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran yang akan dilaksanakan. Oleh karena itu, peserta didik harus selalu melengkapi diri mereka dengan gagasan atau ide-ide baru yang akan menunjang proses belajar mereka. Pada andragogi, peserta didik harus belajar secara independen tanpa harus bergantung pada tenaga pengajar lagi, karena seperti yang telah disebutkan diatas bahwa peserta didiklah yang harus aktif, karena andragogi merupakan teknik pendidikan student-centered. Selain itu, peserta didik juga memiliki tujuan yang fleksibel atau bebas menentukan tujuan mereka sendiri tanpa harus direncanakan oleh tenaga pengajar. Contohnya adalah ketika mahasiswa mengisi KRS atau kartu rencana studi, mahasiswa bebas menentukan mata kuliah apa saja yang akan mereka ambil dalam semester yang bersangkutan dengan tenaga pengajar yang berperan sebagai pembimbing akademik hanya mengarahkan atau memberikan konseling terhadap rencana mata kuliah yan akan mereka ambil.

Peserta didik juga dituntut harus aktif karena sudah dianggap memiliki pengalaman dan memiliki cukup informasi untuk mereka gunakan dalam proses pendidikannya. Serta dalam andragogi, peserta didik juga dilatih dan belajar untuk mengaplikasikan informasi dan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan untuk diaplikasikan di lingkungan sosial dan masyarakat luas secara nyata, karena ilmu yang didapatkan oleh peserta didik digunakan untuk memecahkan masalah yang ada di lingkungan sosial mereka. Andragogi biasanya diterapkan di dunia perkuliahan karena mahasiswa harus aktif di kelas, dan berdasarkan pengalaman kuliah saya selama ini, mahasiswa sebaiknya tidak memasuki ruangan kelas dengan kosong atau tidak memiliki informasi apapun tentang materi yang akan dibahas dalam pertemuan saat itu. Biasanya dosen akan bertanya beberapa pertanyaan untuk membuktikan bahwa mahasiswa yang masuk tidak minim ilmu, karena seharusnya mahasiswa sebagai peserta didik harus memiliki informasi sebelum melaksanakan pertemuan.

Mahasiswa sebagai peserta didik juga harus melenkapi diri mereka dengan ide-ide serta gagasan untuk berkompetensi dalam hal pembelajaran. Hal ini juga dapat dilatih dengan cara menerapkan sesi diskusi kelompok antar mahasiswa agar mahasiswa terbiasa untuk mengemukakan pendapat mereka dihadapan orang lain, ini dikarenakan mahasiswa dikemudian hari akan menjadi seorang ahli, dan seorang ahli sebaiknya adalah seorang public speakers yang baik untuk dapat berbagi informasi kepada orang lain yang belum mengerti tentang suatu subjek tertentu.


Demikianlah yang dapat saya jelaskan mengenai Pedagogi dan Andragogi.

Murid Berprestasi Rendah dan Sulit Didekati

Murid Berprestasi Rendah dan Sulit Didekati

Dalam hal ini, terdapat dua jenis murid berprestasi rendah dan sulit didekati. Yang pertama adalah murid yangh tidak bersemangat dan kurang percaya diri, dan yang kedua adalah murid yang tidak tertarik dan terasing. Kedua hal ini dapat mengurangi prestasi murid selama disekolah dan akan merugikan masa depannya nanti.
Murid yang tidak bersemangat mencakup 3 jenis, yaitu :
  1. Murid berprestasi rendah dengan ekspektasi kesuksesan yang rendah. Murid jenis ini harus diberi keyakinan atau semangat secara terus-menerus agar mereka sadar bahwa prestasi mereka disekolah itu sangat penting untuk mendukung masa depan mereka dimasa depan. Ditambah lagi dengan seluruh tantangan yang ada demi mencapai tujuan mereka dikemudian hari. Serta murid jenis ini juga harus selalu diberikan motivasi bahwa untuk memperoleh kesuksesan serta kemajuan dengan usaha keras dan nyata. Dalam hal ini, instruksi khusus juga sebaiknya dilakukan agar keahlian mereka dalam suatu hal dapat meningkat, bantu mereka dalam menentukan tujuan, serta beri dukungan agar tujuan itu dapat tercapai.
  2. Murid dengan sindrom kegagalan. Sindrom kegagalan dapat diartikan sebagai ekspektasi rendah dalam mencapai kesuksesan serta menyerah saat menghadapi tantangan atau kesulitan diawal usaha mereka. Murid jenis ini biasnya tidak mau berusaha keras, mengerjakan suatu hal setengah hati, dan mudah menyerah saat mendapat kesulitan. Strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi sindrom seperti ini adalah dengan melakukan retraining kognitif seperti retraining kecakapan dan retraining atribusi.
  3. Murid yang melindungi harga dirinya dengan menghindari kegagalan. Murid jenis ini cenderung tidak mau mengejar tujuan pembelajaran dan menjalankan strategi pembelajaran dengan tidak efektif. Salah satu strategi yang dilakukan murid untuk menghindari kesalahan adalah dengan cara non-performance atau tidak mau mencoba, contohnya adalah ketika guru memberikan pertanyaan kepada murid tetapi mengharap agar guru memanggil murid lain, atau dengan cara menundukkan kepalanya agar tidak dilihat oleh guru, dan lain sebagainya. Strategi lain yang diterapkan oleh murid jenis ini adalah berpura-pura, yaitu murid tampak seperti berpartisipasi tapi hanya untuk menghindari hukuman. Contohnya adalah ketika murid bertanya suatu pertanyaan pada gurunya padahal mereka sudah tahu jawabannya. Prokrastinasi akademik atau menunda-nunda kegiatan akademik adalah strategi yang luar biasa karena mereka selalu mengaitkan kegagalan mereka dengan manajemen waktu yang buruk. Menentukan tujuan yang tidak terjangkau juga menjadi salah satu strategi lain mereka agar dapat menutupi kegagalan mereka.


Berikut adalah sejumlah strategi yang dapat dilakukan untuk mengurangi dan mengatasi problem-problem diatas :

  1. Murid dapat diberi tugas yang menarik untuk menarik perhatian mereka, tugas ini harus menantang namun juga tidak boleh berada diluar batas kemampuan mereka. Kemudian jika kemampuan serta keahlian mereka telah meningkat, pengajar dapat menaikkan tingkat kesulitan untuk tugas-tugas berikutnya.
  2. Berikan reward, namun hal ini tidak hanya dilakukan untuk murid yang pintar dan cerdas saja, usahakan untuk memberikan reward bagi murid yang sudah berusaha keras dalam meningkatkan performa mereka dikelas. Pastikan jugahadiah yang anda berikan itu dapat membangun dan memperkuat kemauan murid demi mencapai tujuan mereka.
  3. Bantu murid untuk menentukan tujuan mereka kedepan, namun anda harus memberikan tujuan yang menantang namun tetap realistis dan tidak mustahil untuk dicapai. Beri juga dukungan emosional pada mereka untuk dapt mencapai tujuan tersebut.
  4. Perkuat asosiasi antarausaha dan harga diri, hal ini berguna untuk menimbulkan rasa bangga pada murid setelah mereka berusaha keras agar tetap berusaha dikemudian hari.
  5. Dorong murid untuk memegang keyakinan positif terhadap kemampuan mereka sendiri.
  6. Jalin hubungan antara guru dan murid agar guru dapat membimbing serta memberi motivasi lebih terhadap murid demi mencapai kesuksesannya.



Murid yang terasing adalah murid yang tidak tertarik untuk belajar, apatis, atau menjauhkan diri dari pembelajaran disekolah. Berprestasi disekolah bukanlah hal penting bagi mereka. Untuk mendekati murid seperti ini dibutuhkan usaha terus menerus untuk memberikan sosialisasi sikap mereka terhadap prestasi mereka disekolah.

Tata Cara Menghadapi Perilaku Bermasalah pada Siswa

Tata Cara Menghadapi Perilaku Bermasalah pada Siswa

Dalam menciptakan suasana kelas yang kondusif, kita sebaiknya harus mengelola kelas dengan baik serta menghadapi perilaku bermasalah pada siswa dengan cara yang efektif dan efisien. Ada dua jenis intervensi yang dapat diterapkan untuk mengatasi perilaku bermasalah pada siswa, yaitu intervensi minor dan intervensi moderat.
Pada intervensi minor, kita dapat mengatasi masalah-masalah kecil yang sifatnya hanya menggangu proses belajar-mengajar dikelas seperti murid mungkin akan ribut sendiri, meninggalkan tempat duduk tanpa izin, atau makan permen disaat jam belajar. Untuk mengatasi hal ini, intervensi minor yang sebaiknya dilakukan adalah :
  1.   Menggunakan isyarat nonverbal seperti kontak mata, isyarat tangan, atau sekedar menggelengkan kepala. Hal ini biasanya dapat mengurangi atau menghentikan perilaku tersebut.
  2. Terus lanjutkan aktivitas belajar karena biasanya transisi antara satu pelajaran dengan pelajaran lain dapat berlangsung dalam waktu cukup lama, tidak mengurangi kemungkinan terjadinya kemandekan dalam proses belajar. Jika hal ini terjadi, biasanya murid akan ribut dikelas. Namun alangkah baiknya untuk tidak mengoreksi perilaku tersebut apalagi memarahinya, karena strategi yang sebaiknya digunakan adalah segera memulai pelajaran baru dan hindari gap panjang dalam aktivitas belajar-mengajar.
  3.  Dekati murid, biasanya jika murid mulai melakukan perilaku menyimpang seperti ribut dikelas, anda cukup mendekatinya saja. Hal ini dapat menghentikan perilaku tersebut.
  4. Arahkan perilaku murid jika mereka sudah mulai mengabaikan tugas dan kewajibannya sebagai siswa. Caranya adalah mengingatkan mereka bahwa mengerjakan tugas sekolah itu lebih penting daripada sekedar bermain.
  5. Terkadang murid akan bertindak keliru jika diberikan tugas yang tidak mereka mengerti, untuk mengatasi hal ini anda dapat memantau kinerja murid dikelas dan memberikan petunjuk atau instruksi yang dibutuhkan.
  6. Sikap asertif (tegas) juga dapat dilakukan untuk menghentikan perilaku bermasalah pada siswa. Namun alangkah baiknya jika kita tidak membentak mereka melainkan dengan cara berkata dengan tegas dan langsung tanpa harus membentak mereka.
  7. Beri pilihan pada murid bahwa mereka punya pilihan, yaitu bertindak benar dan mendapatkan reward, atau bertindak salah dan mendapatkan konsekuensi negatif.


Intervensi moderat, selain membutuhkan intervensi minor atau kecil, beberapa perilaku yang bermasalah juga harus mendapatkan intervensi moderat atau lebih kuat. Misalnya ketika murid mulai cabut dari kelas, mengganggu murid lainnya, menggangu proses belajar-mengajar, dll.
Intervensi moderat yang dapat digunakan untuk mengatasi perilaku beermasalah yang seperti ini adalah sebagai berikut :
  1. Jangan beri privilese atau aktivitas yang mereka inginkan, biasanya murid akan menyalahgunakan hak mereka saat proses belajar-mengajar berlangsung seperti diperbolehkan berjalan keliling kelas, mengerjakan ulangan secara berdiskusi dengan teman sebelah, dan lain sebagainya. Dalam kasus ini, anda dapat mencabut privilese agar perilaku yang bermasalah ini dapat berkurang atau dihentikan.
  2. Buat perjanjian yang disepakati bersama, hal ini dapat berguna karena jika murid melakukan tetap keras kepala dalam melakukan perilaku yang tidak diinginkan itu, kita dapat merujuknya dalam perjanjian yang telah disepakati bersama tersebut agar dapat diberi sanksi. Akan tetapi kita juga tidak boleh menggunakan perjanjian sepihak agar tidak terdapat kesan pilih kasih. Sebaiknya buat perjanjian yang fair bagi murid didalam kelas tersebut.
  3. Pisahkan atau keluarkan murid dari kelas jika murid mulai melakukan pertengkaran dengan murid lain. Karena jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, murid akan terus melakukan hal ini tanpa takut akan terkena sanksi dari guru.
  4. Beri hukuman atau sanksi, namun jangan berikan hukuman yang bersifat kontak fisik. Sebaiknya murid yang sudah melakukan kesalahan pada tingkat moderat diberi hukuman seperti menulis halaman tambahan dalam pelajaran menulis, mengerjakan soal tambahan saat pelajaran matematika, dan lain sebagainya.



Selamat Mencoba 

Jumat, 18 April 2014

Observasi Sekolah



Kelompok 6

Ketua Kelompok         :

            - Reza Al Fariz (13-113)
               Link blog : 13113raf.blogspot.com

Anggota Kelompok    :

            - Irvine Talenta (11-088)
               Link blog : 11088iths.blogspot.com

            - Rizki Wadiah (13-037)
               Link blog : 13037rw.blogspot.com

            - Hanna Chairunnisa (13-105)
               Link blog : 13105hcl.blogspot.com

            - Flora Liharni Purba (13-123)
               Link blog : 13123flp.blogspot.com

Profil sekolah :

Nama Sekolah           : SMP Dharma Pancasila
Alamat                       : Jl. Dr. T. Mansyur No.  71-C, Medan
Uang Sekolah            : Rp. 225.000,-/Bulan

Tata letak sekolah :

  • Sekolah menghadap ke Timur
  •  Jumlah Kelas :
            Kelas VII : 4
            Kelas VII : 5
            Kelas IX  : 5

Seluruh kelas terletak di lantai II kecuali kelas Ixd dan IXe yang terletak dibawah, tepatnya disebelah barat.


Fasilitas sekolah :

Terdapat Mushalla, laboratorium IPA, green house, kantin di dua titik, ruang komputer, ruang multimedia, ruang UKS/BP, perpustakaan, lapangan, ruang pramuka, toilet di tiga titik, lokasi pembibitan tanaman, tata usaha, kamar piala, dan taman.

Profil kelas yang diobservasi :

ž  Kelas                           : VIIb
ž  Pengajar                      : Sri Hartati
ž  Ketua Kelas                : Andra Yoga
ž  Sekretaris                    : Juwita Sembiring
ž  Bendahara                   : Khairunissa
ž  Pelajaran                      : Geografi
ž  Lama Observasi          : 45 menit
ž  Jumlah Meja   : 18
ž  Jumlah Kursi   : 36
ž  Jumlah Siswa  : 36
ž  Peta                :
Ø  Italia
Ø  Benua Australia
Ø  Brunei Darussalam
Ø  Perancis
Ø  Singapura
ž Terdapat :
                 Kalender
                 Papan tulis
                 Jam dinding
                 Papan Daftar Hadir
                 Lukisan Pahlawan
                 Gambar Presiden & Wakil Presiden
                 Pancasila


Cara berbicara :

  • Baik.
  • Pengajar menggunakan bahasa yang mudah dimengerti.
  • Ada sebagian Siswa yang  kurang menghargai apa yang dikatakan guru.
  • Siswa kurang sopan karena berteriak-teriak.

Sorot tatap mata :

  • Ada interaksi antara pengajar dan murid.ž
  • Hanya murid-murid yang tempat duduknya di depan yang memperhatikan sedangkan yang dibelakang banyak yang bermain dan bahkan ada yang mengantuk.
  • Ada siswa yang memperhatikan namun hanya diam dan menulis.

Body language:

  • Pengajar mencoba untuk mengajak siswa aktif dengan memberi pertanyaan.
  • Pengajar mencoba menerangkan dengan alat peraga dengan menggunakan tangan, pulpen atau apapun yang mudah untuk dimengerti oleh murid.
  • Menggunakan pemisalan-pemisalan sehingga siswa mudah menangkap maksud pengajar.
  • Kurang mampu untuk mengontrol keadaan kelas sehingga kelas tidak kondusif.
  • Siswa kurang memberikan respon terhadap pelajaran yang di berikan.

Menciptaan Lingkungan yang Positif dalam Pembelajaran

ž  Strategi umum mencakup penggunaan gaya otoritatif dan menajemen aktivitas kelas secara efektif.
      Menggunakan Gaya Otoritatif
      Guru akan punya murid yang cenderung mandiri
      Tidak cepat puas
      Mau bekerja sama dengan teman
      Menunjukkan penghargaan diri yang tinggi
      Melibatkan murid dengan kerja sama give-and-take
      Menunjukkan sikap perhatian kepada mereka

Gaya manajemen kelas otoritarian dimana guru menjaga ketertiban di kelas bukan berfokus pada pengajaran dan pembelajaran. Murid di kelas cenderung pasif, tidak mau berinisiatif dalam beraktivitas, mengekspresian kekhawatiran tentang perbandingan sosial, dan memiliki ketrampilan komunikasi yang buruk.

Gaya manajemen kelas yang permisif memberi banyak otonomi para murid tapi tidak memberi banyak dukungan untuk pengembangan keahlian pembelajaran atau pegelolaan perilaku mereka. Murid memiliki keahlian akademik yang tidak memadai dan kontrol diri yang rendah.

   Mengelola aktivitas kelas secara efektif

      Menunjukkan seberapa jauh mereka “mengikuti”. Guru akan selalu memonitor murid secara regular
      Atasi situasi tumpang-tindih secara efektif. Guru yang efektif akan mampu mengatasi situasi tumpang-tindih secara lebih baik.
      Menjaga kelancaran dan kontinuitas pelajaran. Manajer yang efektif akan menjaga aliran pelajaran tetap lancar, mempertahankan minat murid dan menjaga agar murid tidak mudah terganggu.
      Libatkan murid dalam berbagai aktivitas yang menantang. Manajer kelas yang efektif melibatkan murid dalam berbagai tantangan tetapi bukan aktivitas yang terlalu sulit

Ada 3 strategi mengajak murid untuk bekerja sama yaitu:
1.         M
enjalin hubungan positif dengan murid.
2.         M
engajak murid untuk berbagi dan mengemban tanggung jawab.
3.         M
emberi hadiah pada perilaku yang tepat.

Keterampilan Berbicara 

Beberapa strategi berbicara secara jelas di depan kelas antara lain : 

  • Menggunakan tata bahasa dengan benar.
  • Memilih kosakata yang mudah dipahami dan tepat bagi level grade murid.
  • Menetapan strategi untuk meningkatkan kemampuan murid dalam memahami hal yang dikatakan guru.
  • Berbicara dengan tempo yang tepat tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.
  • Menggunakan perencanaan dan pemikiran logis.


Analisa

Bila dilihat dari cara guru menyampaikan materi bahwa sebenarnya guru tersebut sudah dapat dikatakan memiliki keterampilan bicara yang baik karena guru menggunakan tata bahasa yang benar, berbicara dengan tempo yang tepat yang tidak terlalu cepat dan tida terlalu lambat, menggunakan kosakata yang mudah dimengerti murid, dan tidak menyampaian hal-hal yang kabur.  Tetapi ada sebagian murid yang tidak menghargai dan mendengarkan saat guru mengajar, mereka melakukan aktivitas yang lainnya, seperti berteriak-teriak dan bermain.


Guru juga mengajak murid untuk bekerja sama seperti menjalin hubungan yang positif terhadap murid lainnya, hal ini terlihat dari bagaimana pendapat beberapa murid tentang guru tersebut seperti menyenangkan, baik, tepat waktu dan mudah di mengerti. Guru ini juga mengajak murid untuk berbagi dan mengemban tanggung jawab, hal ini terlihat dari ada struktur kelas di dalam kelas tersebut yang terdapat ketua kelas, sekretaris, dan bendahara.


Tetapi untuk menjadi manajer kelas yang efektif, guru ini belum dapat dikatakan sebagai manajer kelas yang efektif karena guru ini kurang dapat mengontrol kelas sehingga kelas tidak kondusif yang berarti guru tersebut tidak memperhatikan sejauh mana muridnya mengikuti pelajaran dan kurang menjaga kelancaran dan kontuinitas pelajaran.