Jumat, 24 Oktober 2014

Kreativitas

KONSEP PERFORMA KREATIVITAS KELOMPOK 4

Anggota Kelompok 

        

     Pada matakuliah kreativitas, difakultas Psikologi USU berbagai macam cara dilakukan dosen pengampu matakuliah ini untuk membuat mahasiswa memahami masalah keterbakatan dan kreativitas, bagaimana dapat menjadi pribadi yang lebih kreatif, atau dapat membantu orang lain untuk berfikir, bersikap, dan berprilaku kreatif. Salah satu tekhnik yang dilakukan dosen pengampu kami dalam mencapai tujuan matakuliah ini adalah dengan memberikan tugas-tugas, baik tugas individu maupun kelompok, yang kami posting kali ini merupakan salah satu tugas kelompok, dimana kelompok harus memposting konsep performa yang dikaitkan dengan teori, yang nantinya performa tersebut akan ditampilkan didepan kelas. Berikut  konsep yang dihasilkan oleh kelompok 4.
PUPPET SHOW


A. TEORI


Ditinjau dari teori 4P :


   1.      Pribadi
Menurut Hulbeck (1945) tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya. Ketika kelompok diberikan tugas menampilkan performa, masing-masing individu didalam kelompok mulai berfikir performa apa yang akan ditampilkan sambil berdiskusi, dan muncullah beberapa ide performa yang berbeda-beda dari setiap individu.
   2.      Press
Kreativitas agar dapat terwujud membutuhkan adanya dorongan dalam diri individu, baik dorongan internal maupun dorongan eksternal dari lingkungan sosial dan psikologis. Setiap individu didalam kelompok ingin mendapatkan nilai A pada mata kuliah kreativitas, ini merupakan dorongan dari internal setiap individu didalam kelompok. Sedangkan dorongan eksternal kami adalah kami tidak mau kalah dari kelompok yang lain, adanya rasa ingin menampilkan yang terbaik diantara yang lain, membuat sesuatu yang berbeda dan unik.  
   3.      Proses
Menurut Torrance (1988) proses kreatif dan ilmiah dimulai dari kita menemukan suatu masalah sampai dengan menyampaikan hasil. Disini ketika kelompok diberi tugas menampilkan performa kreativitas ini merupakan suatu masalah yang harus dipecahkan oleh kelompok, dimana kelompok harus mendapatkan suatu ide untuk meyelesaikan tugas tersebut sampai dapat menampilkan performa didalam kelas.
Adapun tahap dalam memecahkan masalah tersebut dijelaskan dengan menggunakan Teori Wallas, Wallas (1926) menyatakan bahwa proses kreatif meliputi 4 tahap :
Ø  Persiapan : pada tahap ini seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berfikir, mencari jawaban, bertanya kepada orang, dan sebagainya. Dimana kami berusaha mencari solusi untuk performa apa yang akan dipakai nantinya dengan masing-masing individu berfikir dan kelompok berdiskusi dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan, ini merupakan langkah awal dalam menyelesaikan masalahnya.
Ø  Inklubasi    : tahap dimana individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut, dalam arti bahwa ia tidak memikirkan masalahnya secara sadar, tetapi “mengeramnya” dalam alam pra-sadar. Dimana kelompok pada pertama diskusi belum mendapatkan ide yang menurut kelompok bagus, kemudian kelompok berhenti berdiskusi dan membicarakan hal tersebut selama beberapa minggu.
Ø  Iluminasi   : tahap timbulnya “insight” atau “Aha-Erlebnis”, saat timbulnya inspirasi atau gagasan baru, serta proses-proses psikologis yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi/gagasan baru. Setelah beberapa minggu tidak membicarakan masalah performa, kemudian kelompok ketika dikelas disela-sela waktu pelajaran kreativitas berlangsung, salah satu anggota menanyakan idea apa yang akan digunakan, dan akhirnya anggota lain memberikan ide baru, dan semua anggota didalam kelompok menyetujui ide tersebut yang akan digunakan untuk penampilan performa.
Ø  Verifikasi   : tahap dimana ide atau kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas. dimana kelompok disini sudah mendapatkan ide yang harus ditampilkan nantinya dikelas, setelah tampil nanti maka akan diketahui keberhasilan kelompok dari komentar-komentar dosen dan kelompok-kelompok lain yang mengikuti kelas kreativitas.

     4.      Produk
Menurut tokoh Haefele (1962) kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna social tetapi tidak keseluruhan produk itu harus baru. Akhirnya Kelompok telah mendapatkan produk yang akan ditampilkan yang berjudul “puppet show” walaupun puppet ini telah ada ditampilkan dibeberapa Negara, tetapi ini merupakan sesuatu yang baru bagi kelompok, karena diindonesia sendiri masih sangat jarang ditampilkan, dan kelompok belum pernah memainkannya beberapa anggota malah belum pernah melihatnya, dan juga kelompok memberikan kombinasi-kombinasi yang baru untuk performa ini, sehingga dapat dikatakan ini adalah suatu produk yang baru.

PUPPET SHOW
B. LATAR BELAKANG
Perkembangan dunia hiburan semakin maju seiring dengan perkembangan zaman. Ada banyak ide-ide kreatif yang di munculkan para tokoh-tokoh industri kreatif untuk membuat hiburan yang memiliki kualitas yang baik bagi penonton.  Karya-karya kreatif yang banyak di hasilkan oleh para tokoh sangat bervariasi, salah satunya adalah pertunjukan puppet. Puppet adalah sebuah boneka yang terbuat dari kain.Sejarah puppet berasal dari Eropa pada awal-awal kurun waktu 1900-an. Puppet juga merupakan sebuah konsep pertunjukan dari  China kuno. Puppet biasanya digunakan sebagai watak untuk sebuah pementasan. Sebuah pementasan bisa direka dari bermacam-macam puppet dan juga bisa digunakan dengan beberapa cerita. Puppet terbuat dari stokin, butang baju, benang bulu kambing, jarum kait, reben, pengesat kuali dan lain-lain lagi mengikut tingkat kreativitas dari seorang  tokoh yang memainkannya. Di Malaysia masyarakat yang paling terkenal dengan puppet adalah masyarakat di Kelantan melalui wayang kulit.
Perkembangan seni puppet di Indonesia masih sangat jarang. Pentas-pentas seni yang sering dilakukan para seniman masih sangat jarang yang menggunakan puppet sebagai instrumen utama dari sebuah pertunjukan. Dengan masih sedikitnya seni puppet yang ada di Indonesia, kami kelompok 4 tertarik untuk menampilkan sebuah performa dengan menggunakan puppet sebagai instrumennya. Kami kelompok 4 menamakan pertunjukan/performa kami dengan nama “puppet show”.


C. ALAT




ØBoneka puppet
Ø  Handphone (untuk menghidupkan musik)
Ø  Pengeras suara
Ø  Meja (tempat pertunjukan)

D. KONSEP
1. Kelompok kami beranggotakan lima orang, kami akan melakukan pertunjukannya secara bersama-sama dengan pembagian peran yang berbeda-beda disetiap individu.
2.   Waktu keseluruhan pertunjukan kurang lebih 20 menit.
3.   Topik Drama yang dibahas bisa bebas/khusus.
4. Performa dimulai dengan adanya sebuah narasi yang dibacakan dan adanya sebuah drama yang diperankan oleh puppet yang akan kami buat.


E. CONTOH 
Produk :
 puppet show  

Boneka Puppet :

    
F. HARAPAN


Kelompok berharap setelah menampilkan performa ini, kelompok bisa lebih kreatif lagi dan dapat menghasilkan sesuatu yang baru dan berguna bagi semua orang, dengan berlandaskan teori-teori yang telah dipelajari selama perkuliahan. Dan kelompok juga berharap setelah kelompok menampilkan performa yang dikonsepkan ini dosen dan teman-teman yang lain merasa terhibur dengan apa yang kami tampilkan, sehinngga kami layak mendapatkan nilai A dimatakuliah ini.

Jumat, 20 Juni 2014

The Big Five

Big Five Personality

            Big five personality merupakan pendektan dalam psikologi kepribadian yang mengelompokan trait-trait kepribadian dengan analisis faktor. Faktor-faktor didalam big five  menurut Costa & McCrae meliputi: (O) Openness, (C) Conscientiousness, (E) Extraversion (A) Agreeableness, (N) Neurotisme.

·        Openness (O)
            Menilai usahanya secara proaktif dan penghargaannya terhadap pengalaman demi kepentingannya sendiri. Menilai bagaimana ia menggali sesuatu yang baru dan tidak biasa. Dimensi ini mengamanatkan tentang minat seseorang. Orang terpesona oleh hal baru dan inovasi, ia akan cenderung menjadi imajinatif, benar-benar sensitif dan intelek. Sementara orang yang disisi lain kategori keterbukaannya ia nampak lebih konvensional dan menemukan kesenangan dalam keakraban.

·         Conscientiousness (C)
            Menilai kemampuan individu didalam mengorganisir, baik mengenai ketekunan dan motivasi dalam mencapai tujuan sebagai perilaku langsungnya. Sebagai lawannya menilai apakah individu tersebut tergantung, malas dan tidak rapi. Dimensi ini merujuk pada  jumlah tujuan yang menjadi pusat perhatian seseorang. Orang yang  mempunyai skor tinggi cenderung mendengarkan kata hati dan mengejar sedikit tujuan dalam satu cara yang terarah dan cenderung bertanggung jawab, kuat bertahan, tergantung, dan berorientasi pada prestasi. Sementara yang skornya rendah ia akan cenderung menjadi lebih kacau pikirannya, mengejar banyak tujuan, dan lebih hedonistik.

·         Extraversion (E)
            Menilai kuantitas dan intensitas interaksi  interpersonal, level aktivitasnya, kebutuhan untuk didukung, kemampuan untuk berbahagia. Dimensi ini menunjukkan tingkat kesenangan seseorang akan hubungan. Kaum ekstravert (ekstraversinya tinggi) cenderung ramah dan terbuka serta menghabiskan banyak waktu untuk mempertahankan dan menikmati sejumlah besar hubungan. Sementara kaum introvert cenderung tidak sepenuhnya terbuka dan memiliki hubungan yang lebih sedikit dan tidak seperti kebanyakan orang lain, mereka lebih senang dengan kesendirian.

·         Agreeableness (A)
            Menilai kualitas orientasi individu dengan kontinum mulai dari lemah lembut sampai antagonis  didalam berpikir, perasaan dan perilaku. Dimensi ini merujuk kepada kecenderungan seseorang untuk tunduk ke pada  orang   lain. Orang yang sangat mampu bersepakat jauh lebih menghargai harmoni daripada ucapan atau cara mereka. Mereka tergolong orang yang kooperatif dan percaya pada orang lain. Orang yang menilai rendah kemampuan untuk bersepakat memusatkan perhatian lebih pada kebutuhan mereka sendiri ketimbang kebutuhan orang lain.

·         Neuroticism (N)
            Trait ini menilai kestabilan dan ketidakstabilan emosi. Mengidentifikasi kecenderungan individu apakah mudah mengalami stres, mempunyai ide-ide yang tidak realistis, mempunyai coping response yang maladaptive. Dimensi ini menampung kemampuan seseorang  untuk menahan stres. Orang dengan  kemantapan emosional positif cenderung berciri tenang, bergairah dan aman. Sementara mereka yang skornya negatif tinggi cenderung tertekan, gelisah dan tidak aman.
            Dari lima faktor didalam Big Five, masing-masing dimensi terdiri dari beberapa facet. Facet merupakan trait yang lebih spesifik, merupakan komponen dari 5 faktor besar tersebut.
Komponen dari big five faktor tersebut menurut NEO PI-R yang dikembangkan Costa & McCrae adalah :

a. Neuroticism
·         Kecemasan (Anxiety)
·         Kemarahan (Anger)
·         Depresi (Depression)
·         Kesadaran diri (Self-consciousness)
·         Kurangnya kontrol diri (Immoderation)
·         Kerapuhan (Vulnerability)

b. Extraversion
·         Minat berteman (Friendliness)
·         Minat berkelompok (Gregariousness)
·         Kemampuan asertif (Assertiveness)
·         Tingkat aktivitas (Activity-level)
·         Mencari kesenangan (Excitement-seeking)
·         Kebahagiaan (Cheerfulness)

c. Openness
·         Kemampuan imajinasi (Imagination)
·         Minat terhadap seni (Artistic interest)
·         Emosionalitas (Emotionality)
·         Minat berpetualangan (Adventurousness)
·         Intelektualitas (Intellect)
·         Kebebasan (Liberalism)

d. Agreeableness
·         Kepercayaan (Trust)
·         Moralitas (Morality)
·         Berperilaku menolong (Altruism)
·         Kemampuan bekerjasama (Cooperation)
·         Kerendahan hati (Modesty)
·         Simpatik (Sympathy)

e. Conscientiousness
·         Kecukupan diri (Self efficacy)
·         Keteraturan (Orderliness)

·         Rasa tanggungjawab (Dutifulness)

Hans J. Eysenck

                  Biografi Hans J. Eysenck
Hans J. Eysenck lahir di Berlin, Jerman pada tanggal 4 Maret 1916. Ibunya Silesian kelahiran bintang film Helga Molander, dan ayahnya, Eduard Anton Eysenck adalah seorang penghibur klub malam yang pernah terpilih sebagai pria paling tampan di pantai Baltik.

Ayah dan ibunya bercerai saat dia sedang berusia  2 tahun. Eysenck kemudian dirawat oleh neneknya sampai berusia 18 tahun. Kala itu Nazi mulai berkuasa, dan sebagai simpatisan Yahudi, Hans Eysenck pun terancam. Kemudian dia pindah ke Inggris untuk melanjutkan pendidikannya.

Dia menerima gelar doktor di bidang psikologi dari University of London pada tahun 1940. Pada saat perang dunia pertama, dia bekerja sebagai seorang psikolog di bagian gawat darurat. Disinilah penelitiannya pun dilakukan tentang “kevalidan diagnosis-diagnosis psikiatri. Hasil peneltiannya kemudian membuatnya menentang psikologi analisis sepanjang kariernya. Setelah perang usai, dia mengajar di University of London dan menjadi ketua bagian psikologi di The Institute of Psychiatri di Betlehem Royal Hospital.

Hans Eysenck adalah seorang psikolog terkenal yang memakai pendekatan behaviorisme dalam melihat kepribadian manusia. Teori Eysenck sebagian besar didasarkan oleh fisiologi dan genetika. Meskipun dia seorang behavioris, namun Eysenck melihat perbedaan kepribadian lebih disebabkan oleh faktor keturunan atau genetika.

Salah satu metode yang dipakai Eysenck adalah teknik statistik yang disebut analisis faktor. Cara analisis ini dilakukan adalah dengan responden diberikan daftar berisi sifat-sifat manusia yang mereka pilih sesuai kepribadian mereka.

Pengertian Kepribadian
Kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi, tempramen, ciri-ciri kas dan perilaku seseorang. Sikap perasaan ekspresi dan tempramen itu akan terwujud dalam tindakan seseorang jika di hadapkan pada situasi tertentu. Setiap orang mempunyai kecenderungan perilaku yang baku, atau berlaku terus menerus secara konsisten dalam menghadapai situasi yang di hadapi, sehingga menjadi ciri khas pribadinya.

Pengertian kepribadian menurut Hans Eysenk
Eysenk berpendapat dasar umum sifat-sifat kepribadian berasal dari keturunan, dalam bentuk tipe dan trait. Namun dia juga berpendapat bahwa semua tingkah laku dipelajari dari lingkungan. Menurutnya kepribadian adalah keseluruhan pola tingkah laku aktual maupun potensial dari organisme, sebagaimana ditentukan oleh keturunan dari lingkungan. Pola tingkah laku itu berasal dan dikembangkan melalui interaksi fungsional dari empat sektor utama yang mengorganisir tingkah laku; sektor kognitif, (intellegence), sektor kunatif (character), sektor afektif (temperament) dan sektor somatik (constitution).


Hans Eysenk juga mengatakan dimensi kepribadian dasar adalah introversi, ekstraversi, dan psikotisme. Kusioner telah dikembangkan untuk menilai sifat ini, riset ini difokuskan introversi-ekstraversi dimana ditemukan perbedaan pada level aktivasi dan aktivitas. Eysenk menunjukan bahwa perbedaan pada sifat individu memiliki basis biologis dan genetik (turunan), walaupun demikian dia juga mengisyaratkan bahwa perubahan penting dalam fungsi kepribadian dapat terjadi melalui terapi perilaku.

Psikopatologi
Teori kepribadian Eysenck berkaitan erat dengan teori psikologi dan perubahan perilaku. Jenis gejala atau gangguan psikologis yang cenderung berkembang adalah terkait dengan karakteristik kepribadian dasar dan prinsip-prinsip dari fungsi sistem saraf. Menurut Eysenck, orang extravert biasanya memiliki level rangsangan cortical (CAL=CorticalArousal Level) yang tinggi , sedangkan introvert biasanya memiliki  level rangsangan cortical (CAL) yang lebih rendah. Orang yang mengalami gangguan fobia dan obsesif-kompulsif biasanya adalah orang introvert, sementara orang yang mengalami gangguan keseimbagan mental (misalnya, paralisis histerikal) atau gangguan ingatan (misalnya amnesia) biasanya adalah orang ekstravert.

Raymond B. Cattell

SEJARAH  RAYMOND B. CATTELL

Pada tahun 1905, Cattell lahir di kota Staffordshire, Inggris dan merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ketika Cattell berusia 9 tahun, di Inggris sedang terjadi Perang Dunia I. Cattell melihat banyak kereta muatan yang mengangkut tentara cedera yang kembali dari medan perang di Perancis. Hal tersebut membuat Cattell sadar bahwa “betapa singkatnya hidup dan kebutuhan untuk menyempurnakannya selagi bisa. Pada usia 16 tahun, Cattell melanjutkan pendidikannya di University of London dan mengambil jurusan fisika dan kimia. Namun dia menyadari bahwa ilmu fisika dan kimia yang ia miliki tidak dapat membantunya untuk memecahkan masalah sosial. Ia pun memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di bidang Human Mind dan ia menyimpulkan bahwa satu-satunya jalan adalah mempelajari pikiran manusia (Human Mind).

Ini adalah keputusan yang telah berani dibuatnya pada tahun 1924.  Cattell melanjutkan pendidikan pasca sarjananya di University of London dan mengambil jurusan psikologi.

Pada tahun 1929,  Cattell menyelesaikan program Ph.D dan bekerja sama dengan seorang psikolog dan ahli statistik ternama, yaitu Charles E. Spearman. Ketika itu, Spearman telah menggunakan analisis faktor untuk mengukur kemampuan mental, dan Cattell memutuskan untuk menggunakan metode tersebut untuk struktur kepribadian.

Delapan tahun setelah ia meraih gelar doktornya, Cattell akhirnya menerima kesempatan untuk melakukan pekerjaan penuh waktu dalam psikologi . Psikolog Amerika terkemuka Edward L. Thorndike mengundang Cattell untuk menghabiskan waktu setahun di laboratorium Thorndike di Columbia University di New York. Tahun-tahun berikutnya Cattell menjadi profesor psikologi di Clark University di Worcester, Massachusetts, dan pada tahun 1941 ia pindah ke Harvard University. Dia menikah dengan seorang matematikawan yang berbagi kepentingan penelitian, dan pada usia ke 40, Cattell pindah ke University of Illinois sebagai profesor riset.

Terbebani dengan mengajar atau tugas akademik lainnya, Cattell sepenuhnya mengabdikan dirinya sendiri pada penelitiannya. Ia menerbitkan lebih dari 400 artikel dan 35 buku , prestasi monumental yang mencerminkan dedikasi dan kegigihannya.

DEFENISI KEPRIBADIAN CATTELL
          
Cattell mengemukakan pendapatnya mengenai defenisi kepribadian, yaitu :
“ Personality is that which permits a prediction of what a person will do in a given situation “

Maksudnya adalah, kepribadian seseorang mampu memprediksi perilaku yang akan dilakukannya                 dalam situasi tertentu. Kepribadian yang dimaksud Cattell berfokus dengan seluruh bentuk perilaku,               baik luar maupun dalam.

1    Research
Cattel membagi tiga cara untuk mempelajari kepribadian, yaitu: pendekatan variate, clinical, dan multivariate. Pendekatan bivariat adalah metode standar dimana psikolog  memanipulasi variabel independen untuk menentukan adanya efek pada perilaku subjek. Pendekatan ini  juga bisa disebut univariate, karena hanya satu variabel yang diteliti pada suatu waktu. Pada kenyataannya, kepribadian itu dipengaruhi oleh banyak variable. Ini membuat Cattell berpendapat bahwa hal ini hanya memiliki aspek terbatas pada kepribadian.

Pendekatan clinical, meliputi studi kasus, analisis mimpi, asosiasi bebas, dan teknik yang sama, sangat subjektif,oleh karena itu, tidak menghasilkan data diverifikasi dan terukur.

Pendekatan multivariate, Cattell memilih pendekatan ini karena menghasilkan data yang sangat  spesifik. Cattel membagi dua bentuk analisis faktor, yaitu: teknik R dan teknik P. Teknik R melibatkan pengumpulan sejumlah besar data dari kelompok yang diteliti. Trait ditentukan dari korelasi antar semua nilai.